Bukit Siguntang

Selasa, 20 November 2012 0 komentar
Kawasan Bukit Siguntang, Palembang, dilihat kasatmata tak tampak seperti sebuah situs penting. Di sana tak berdiri patung, candi, atau arca yang menandakan tempat itu penting, terkecuali sejumlah makam (konon) raja-raja Sriwijaya yang dikeramatkan. Tetapi, siapa sangka, tempat ini pernah dan masih menyita perhatian publik dunia. Bahkan, Duta Besar Yunani untuk Indonesia Charambos Christopoulus, medio 2008 menginjakkan kaki ke tempat ini seusai mendengar kabar Bukit Siguntang adalah tempat Alexander The Great dimakamkan.

Dalam cerita rakyat Melayu, kisah hidup Raja Macedonia ini adalah hikayat Raja Iskandar Zulkarnain atau sering disebut Pangeran Sigentar Alam oleh warga setempat. Meskipun para arkeolog tak menemukan kaitan sejarah di antara kedua kisah ini, Dubes Yunani Charambos telanjur menganggap penting situs yang terletak di ketinggian 26 meter di atas permukaan laut (tertinggi di Palembang) ini.

Bukan hanya Yunani, banyak negara menganggap Siguntang sebagai situs yang sangat penting. Bukit Siguntang menjadi salah satu pusat ziarah umat Buddha yang tak kalah penting dari Borobodur sekalipun. ”Pengunjung dari luar, seperti Tibet, Singapura, dan Thailand, kerap datang dan bersembahyang di sini,” tutur Sulaeman (30), juru kunci Bukit Siguntang, akhir pekan lalu.

Bahkan, tokoh pemuka agama dari Tibet, Rinphoche, pernah mengunjungi tempat ini. Pada abad ke-9, tempat ini merupakan pusat belajar agama para pendeta Buddha. Di zaman Sriwijaya ini, pendeta-pendeta dari wilayah Asia berguru kepada Maha Guru Suvarnadvipa Dharmakirti.

Di tempat ini pula banyak ditemukan peninggalan sejarah yang penting macam arca Buddha Sakyamuni berukuran besar yang mengenakan jubah. Arca ini kini disimpan di Museum Badaruddin II, Palembang. Sebelumnya, tubuh badan dan kepala arca ini terpisah.

Harus kembalikan Menurut arkeolog dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo, arca ini semestinya dikembalikan ke Bukit Siguntang demi menjaga kelestarian sekaligus kesakralan lokasi situs. Ia menyayangkan pula munculnya sejumlah bangunan pendukung, seperti pelataran istirahat, yang dinilai justru mengganggu keasrian situs.

Tempat ini juga tampak kurang terawat. Jalan menuju lokasi makam dan bangunan tempat sembahyang dipenuhi lumut. Rumput ilalang tumbuh lebat. Atap gedung pun bocor.

”Sudah dua bulan ini belum turun anggaran perawatan. Kami pun tidak bisa berbuat apa-apa,” ujar Sulaeman menjelaskan. ”Kami pernah mengusulkan membangun sendiri bangunan tempat sembahyang, tetapi nyatanya yang dibangun pemerintah jadinya seperti ini,” kata Ketua Majelis Buddhayana Indonesia Sumsel Darwis Hidayat.

sumber: http://arkeologi.web.id/articles/mitos-legenda-dan-tutur/907-hikayat-dari-bukit-siguntang-

0 komentar:

Poskan Komentar

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

 

©Copyright 2011 Anggi Meliyan Saputra | TNB